Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
- Home
- Artikel Detail
- Admin
- Artikel
- 23 Mei 2026
Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
Dalam tradisi
Islam, waktu bukan sekadar hitungan astronomis yang bergerak dari detik ke
detik. Alquran memandang waktu sebagai bagian dari ayat-ayat Allah yang
memiliki nilai, kehormatan, dan fungsi spiritual tertentu.
Karena itu,
Islam mengenal adanya waktu-waktu mulia (al-azminah al-fadhilah), tempat-tempat
mulia (al-amkinah al-fadhilah), dan amal-amal tertentu yang memiliki keutamaan
lebih besar dibanding lainnya.
Di antara waktu
yang paling agung dalam kalender Islam adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Menariknya, di
tengah masyarakat modern hari ini, manusia justru semakin kehilangan
sensitivitas terhadap “kesucian waktu”. Kalender kehidupan lebih banyak diatur
oleh ritme ekonomi, target industri, agenda politik, promosi digital, hingga
tren media sosial.
Manusia modern
sangat mudah mengingat tanggal konser, jadwal liga olahraga dunia, momentum
diskon besar, atau peristiwa hiburan global, tetapi sering lupa bahwa dalam
Islam ada hari-hari yang oleh Allah dan Rasul-Nya justru disebut lebih mulia
dan lebih bernilai daripada hari-hari lainnya.
Fenomena ini
sesungguhnya berkaitan erat dengan krisis spiritual manusia modern. Laporan
World Health Organization tahun 2022 mencatat bahwa lebih dari 970 juta orang
di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan (anxiety
disorders) dan depresi menjadi kasus terbesar secara global.
WHO juga
menyebutkan bahwa setelah pandemi COVID-19 terjadi peningkatan signifikan
gangguan kecemasan dan depresi hingga sekitar 25 persen di berbagai negara.
Sementara itu,
riset global yang diterbitkan oleh Gallup dalam Global Emotions
Report 2023 menunjukkan bahwa tingkat stres, kecemasan, dan kesedihan
masyarakat dunia tetap berada pada angka tinggi meskipun dunia mulai pulih dari
pandemi. Banyak manusia hidup dalam kemajuan teknologi, tetapi tidak menemukan
ketenangan batin.
Fenomena lain
yang semakin banyak dibahas para ilmuwan sosial adalah loneliness epidemic (epidemi
kesepian). Pada tahun 2023, Surgeon General Amerika Serikat, Vivek Murthy,
menerbitkan laporan resmi berjudul Our Epidemic of Loneliness and
Isolation yang menyebut bahwa kesepian kronis kini menjadi ancaman serius
kesehatan publik, bahkan dampaknya terhadap kesehatan dinilai setara dengan
merokok beberapa batang rokok per hari.
Psikolog sosial
Amerika, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation (2024)
menjelaskan bagaimana budaya digital dan penggunaan media sosial yang
berlebihan melahirkan generasi yang lebih mudah cemas, rapuh secara emosional,
sulit fokus, dan kehilangan kedalaman relasi sosial maupun spiritual.
Dalam konteks
inilah, Islam sebenarnya telah lama menghadirkan mekanisme spiritual yang
sangat luar biasa: momentum-momentum ibadah yang berfungsi sebagai spiritual
reset bagi manusia.
Ramadhan,
Jumat, sepertiga malam, hari Arafah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah
merupakan contoh bagaimana syariat membangun ritme ruhani agar manusia tidak
tenggelam sepenuhnya dalam materialisme dunia.
Karena itu para
ulama sejak dahulu menyebut momentum seperti ini sebagai “mawashim at-tho’ah”,
yakni musim-musim ketaatan. Dan salah satu musim ibadah terbesar itu adalah
sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah; hari-hari ketika manusia diajak kembali
memperbaiki hubungan dengan Allah melalui dzikir, pengorbanan, ketundukan, dan
amal saleh.
Keagungan
hari-hari ini bahkan diabadikan langsung oleh Allah Ta‘ala dalam sumpah-Nya
pada awal surat Al-Fajr:
وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar,
dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)
Dalam disiplin
ilmu tafsir, sumpah Allah terhadap sesuatu menunjukkan adanya kemuliaan dan keagungan
perkara tersebut. Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa
Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang memiliki kedudukan besar.
Mayoritas
mufassir dari generasi sahabat, tabi‘in, dan para imam tafsir menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan “Walayalin ’asyr” adalah sepuluh hari pertama bulan
Dzulhijjah. Imam ath-Thabari dalam Jamiʿ al-Bayan meriwayatkan dari
Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsirkan ayat
tersebut sebagai sepuluh hari Dzulhijjah. Begitu juga Imam Ibnu Katsir
dalam Tafsir al-Qurʾan al-’Adhim menegaskan bahwa inilah pendapat
yang benar.”
Keutamaan ini
kemudian dipertegas oleh hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dari Ibn
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ
الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
“Tidak ada
hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
Para sahabat
bertanya:
وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ؟
“Tidak juga
jihad di jalan Allah?”
Beliau
menjawab:
الجِهَادُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ
ذَلِكَ بِشَيْءٍوَلَا
“Tidak juga
jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya
lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR Bukhari)
Imam Ibn Hajar
al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa keutamaan sepuluh
hari pertama Dzulhijjah karena pada waktu itu berkumpul seluruh induk ibadah
besar dalam Islam, yakni shalat, puasa, sedekah, dan haji.
Menariknya,
berbagai penelitian psikologi kontemporer menunjukkan bahwa praktik spiritual
dan ibadah memiliki dampak nyata terhadap kesehatan jiwa manusia. Penelitian
yang diterbitkan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health tahun
2020 menunjukkan bahwa individu yang memiliki rutinitas spiritual dan
keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung memiliki tingkat depresi
lebih rendah, daya tahan psikologis lebih baik, dan tingkat harapan hidup yang
lebih tinggi.
Sementara
penelitian dalam Journal of Religion and Health tahun 2021
menjelaskan bahwa aktivitas seperti doa, meditasi spiritual, dzikir, dan puasa
berkorelasi positif terhadap penurunan tingkat stres dan peningkatan psychological
well-being.
Dalam Islam,
seluruh rangkaian ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sesungguhnya
membentuk pendidikan ruhani yang sangat mendalam. Puasa melatih pengendalian
diri, takbir membangun kesadaran tauhid, ibadah qurban mendidik keikhlasan dan
pengorbanan, ibadah haji mengajarkan kesetaraan dan ketundukan, sedangkan
dzikir menenangkan hati yang gelisah.
Demikian itu
merupakan proses pembinaan jiwa. Dan Allah menegaskan, bahwa hati seorang hamba
akan mendapatkan ketenangan dengan mengingat-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ
“Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Al-Ra‘d: 28)
Para sahabat
dan ulama memahami sepuluh hari pertama Dzulhijjah bukan sekadar rangkaian hari
mulia yang diperingati secara simbolik, tetapi sebagai momentum besar untuk
memperkuat hubungan dengan Allah dan menghidupkan syiar Islam di tengah
masyarakat.
Oleh karena
itu, ketika Dzulhijjah tiba, yang tampak bukan hanya peningkatan ibadah
personal, tetapi juga hadirnya atmosfer dzikir yang hidup di ruang sosial umat.
Dalam riwayat
Imam al-Bukhari disebutkan:
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو
هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ
وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا
“Dahulu Ibn
‘Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah
sambil mengumandangkan takbir, lalu orang-orang ikut bertakbir mengikuti takbir
keduanya.”
Atsar (amalan
sahabat) ini memberikan gambaran sangat menarik tentang bagaimana generasi awal
Islam membangun budaya spiritual yang menyatu dengan kehidupan sosial. Pasar
yang identik dengan aktivitas ekonomi, transaksi, dan kesibukan dunia tidak
membuat mereka lalai dari dzikir kepada Allah. Justru di tengah keramaian
itulah syiar tauhid dihidupkan.
Takbir pada
masa itu bukan hanya terdengar di masjid atau majelis ibadah, tetapi juga menggema
di rumah-rumah, jalan-jalan, dan pusat-pusat aktivitas masyarakat. Dzulhijjah
benar-benar hadir sebagai musim dzikir yang membentuk suasana ruhani umat.
Gambaran ini
menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak dibangun dengan menjauh dari
kehidupan sosial, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan di tengah
dinamika kehidupan itu sendiri. Begitulah para ulama salaf memandang Dzulhijjah
sebagai momentum tazkiyat an-nafs (pembersihan jiwa) dan percepatan
amal saleh. Semangat itu tampak dalam kesungguhan ibadah mereka.
Imam ad-Darimi
meriwayatkan tentang tabi‘in besar, Sa‘id bin Jubair rahimahullah:
كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا
دَخَلَتْ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا حَتَّى مَا يَكَادُ يُقْدَرُ
عَلَيْهِ
“Sa‘id bin
Jubair apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau
bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang sangat hingga
hampir-hampir tidak mampu lagi menambahnya.”
Sekali lagi,
riwayat seperti ini menunjukkan bahwa generasi awal Islam memandang Dzulhijjah
sebagai musim ibadah yang sangat besar. Dengan kata lain, mereka tidak
membiarkan hari-hari mulia berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah. Mereka
tidak ingin satu hari pun berlalu tanpa tambahan amal, dzikir, tilawah, puasa,
dan qiyamullail.
Para ulama itu
memahami bahwa ada momentum tertentu dalam kehidupan yang harus disambut dengan
keseriusan ruhani, karena boleh jadi di sanalah Allah membuka pintu ampunan,
keberkahan, dan perubahan besar dalam hidup seorang hamba.
Lalu apa hikmah
besar dari kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini? Berikut di
antaranya:
Pertama, Dzulhijjah
mengajarkan bahwa manusia membutuhkan momentum untuk kembali kepada Allah.
Sebab hidup tidak boleh sepenuhnya dikuasai rutinitas dunia.
Kedua, Dzulhijjah
mendidik manusia tentang makna pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mengajarkan
bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas cinta pada apa pun.
Ketiga, Dzulhijjah
mengajarkan kesetaraan manusia. Saat haji, manusia datang dengan pakaian ihram
yang sederhana; tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, atau kekayaan di
hadapan Allah.
Keempat, Dzulhijjah
mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekadar materi, tetapi kedekatan
dengan Allah dan kebermaknaan hidup.
Karena itu,
amaliah yang dianjurkan pada hari-hari ini bukan hanya ibadah ritual, tetapi
juga amal sosial dan pembinaan akhlak.
Dianjurkan
memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, tahmid, dan tahlil. Begitu juga
memperbanyak baca Alquran dan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Arafah.
Selain itu,
dianjurkan pula memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Lalu menjaga hubungan
keluarga dan silaturahim. Dan tak kalah penting, berniat menyiapkan qurban
terbaik sebagai syiar ketakwaan.
Allah Ta‘ala
berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ
اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah,
dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan
hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Jadi, sepuluh
hari pertama bulan Dzulhijjah benar-benar mengingatkan kita bahwa hidup bukan
sekadar kompetisi ekonomi dan pencapaian material. Ada kebutuhan jiwa yang
tidak pernah bisa dipenuhi oleh teknologi, popularitas, ataupun kekayaan.
Artinya, manusia
membutuhkan makna dan ketenangan dalam hidup, dengan mendekatkan hubungan
dengan Allah. Bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Dan bulan Dzulhijjah ini menjadi
momentum besar yang paling tepat untuk melakukan hal itu.